Minggu, 23 November 2014

Rumah

Aku ingin membangun rumah di hatimu
Dengan kolam di tengahnya
Tempat kita berlengang-lengang diriciknya
Sungguh aku hanya memilih rumah rindu
Yang padanya luka dan cinta menyatu
Tak seperti perindu lainnya
Aku takkan mencarimu
Karena kamu sudah kutemukan di hatiku
Tempat yang sarat hanya untukmu
Namun adakah aku didalam rumah itu
Menemanimu duduk berdua
Bersama menghabiskan waktu hingga tua?

Sabtu, 22 November 2014

Sandal

Ngomongin tentang sandal, apa yang pertama kali elu pikirin? Secara umum sih "dia" itu hanya sebatas alas kaki doang kan. Iya dia memang hanya alas kaki. Tapi gue ngga bisa ngebayangin gimana rasanya jalan tanpa sandal. Memang ada sepatu sih, tapi kalo hanya jalan ke toko, masjid, nongkrong ke rumah temen atau ke tempat-tempat yang ngga perlu pake sepatu masa iya mo "nyeker" (jalan dengan kaki telanjang). Belum lagi kalo pas tiba-tiba ngga sengaja nginjek sesuatu dijalan, beeeh.. ngeselin.
Gue sendiri tipe orang yang paling demen kemana aja pake sandal. Kecuali ke acara-acara formal ya tetep pake sepatu dong. Entah sejak kapan gue suka make sandal kemanapun gue pergi. Kalo ngga salah sih saat pertama kali gue dengan temen-temen sma "silaturrahim" ke alam yang bener-bener masih perawan. Iya, itu sekitar enam tahun yang lalu. Kecintaan gue dengan sandal makin menjadi ketika gue bisa mendaki ke gunung tertinggi pulau jawa hanya dengan sandal jepit yang harganya jauh dibawah harga sandal gunung yang ratusan ribu. Dan hingga sekarang, gue tetep setia dengan sandal. Sandal di bawah ini adalah sandal yang gue beli sekitar dua tahun lalu. Meski doi udah ngga setebal dulu, meski kini makin banyak produk-produk baru yang memiliki berbagai kelebihan, gue tetep bertahan dengan doi. Kenapa? Karena kalo gue udah "srek" ama "satu", gue ngga akan pernah bisa lepas dari satu itu. gitu..

K.O.

Fix, akhirnya gue jatuh sakit setelah "dihajar" function beberapa minggu lalu. Ini pertama kalinya semenjak gue pindah kerja disini pertengahan agustus kemarin.

Kamis, 13 November 2014

Hujan

Matahari keemasan bersembunyi malu dibalik mendung kelabu
Burung-burung kembali ke tempat mereka bersarang
Tapi aku tetap berdiri dibentangan pasir putih
Disaat yang lain memilih menghindarinya
Aku lebih suka menantinya
Menunggu meski belum tentu ia datang
Karena kata orang mendung belum berarti hujan
Hampir saja putus asa memukul jatuh asaku
Tapi tekadku lebih kuat dari tembok cina
Mimpiku lebih tinggi dari langit yang terlihat mata
Detik terus berlari hingga menjadi menit
Hari demi hari hati terkikis menanti kepastian semu
Semula jemu tampak setitik
Tapi kini ia menjadi bentangan pasir yang kupijak bersama penyesalan
Sesal?
Tidak, sungguh tidak
Justru aku bersyukur dan berterima kasih
Karena mereka
Telah mengajarkanku untuk setia pada satu
Bukan dua atau selebihnya
Awan masih mendung dengan ketidakpastian
Ku langkahkan kaki mundur perlahan-lahan
Mungkin akan kucari lagi mendung yang lain
Atau kembali pada awan mendung yang kutunggu selama ini
Bila ia telah menurunkan hujan dengan satu kepastian

Minggu, 09 November 2014

Lajang = Jomblo

Jomblo adalah bahasa gaul dari kata "Lajang" atau "Single" dalam bahasa Inggris. Kita hidup di negara yang lucu yang menganggap manusia jomblo ada dalam tingkatan kasta yang lebih rendah dari manusia yang berpasangan (yang belum halal). Padahal menjadi jomblo tidak semenyedihkan itu. Justru sebaliknya, kebanyakan manusia jomblo adalah manusia yang cukup kuat untuk berdiri sendiri, manusia yang sedang tidak mau berurusan dengan drama berlebih, manusia yang sibuk berdikari dan fokus mengejar mimpi, manusia yang sedang ingin mencurahkan kasih sayang pada sahabat-sahabat dan keluarganya, manusia yang bukan terlalu jelek untuk mendapatkan pasangan melainkan terlalu keren untuk tergesa-gesa tenggelam dalam hubungan yang salah yang ujungnya malah kebohongan dan pengkhianatan. Jadi lain kali jika kamu ingin mengejek manusia jomblo, ingat saja, akan ada saatnya kamu putus, akan ada saatnya kamu rapuh, akan ada saatnya kamu menjadi jomblo, akan ada saatnya kamu membaca tulisan ini dan tersenyum. Nah kan, kamu senyum...

Selasa, 28 Oktober 2014

Beautiful Gift

Selain doa, bagi saya "waktu" adalah salah satu hadiah terindah yang bisa "diberikan" dari seorang manusia kepada manusia lainnya. Kau tau mengapa?
Karena ia rela memberikan sebagian jatah hidup "miliknya" yang tak akan pernah kembali "hanya" untuk mengurus manusia lainnya. Maka untuk siapapun yang selalu ada untukmu, menjawab segala ocehanmu, mendengarkan segala keluh kesahmu, dan bersabar dengan segala tingkah lakumu, doakan agar ia memiliki waktu yang berkah.
Berterimakasihlah atas pilihannya untuk selalu "ada" bagimu.

Senin, 27 Oktober 2014

Perasaan Manusia




Mungkin apa yang kita rasain sama. Takut, sepi, bingung, sedih, dan bla bla dan bla bla bla. Setinggi apapun derajat manusia, setidaknya kucing kecil difoto ini bisa ngewakilin perasaan kekhawatiran dari hidup yang pernah, sedang, atau mungkin yang bakal lo, gue, atau kita alamin nanti.

Siapa "aku"?

Mencari jati diri acapkali menjadi sebuah pertanyaan
Begitu rumit namun harus segera dijawab tuntas
Berbagai macam peristiwa yang berlalu lalang
Semakin menambah jumlah deret pertanyaan
Ketika rasa letih bergejolak
Aku buka kembali lembar demi lembar catatan perjalananku
Jiwa serasa terlempar jauh lalu tenggelam ke masa silam
Menembus dimensi kemustahilan
Lewat catatan yang tertuang dalam barisan kata
Menyiratkan makna perjuangan di berbagai lini kehidupan
Kisah tentang kemanusiaan, sosial, politik, cinta, bahkan tentang kematian
Semua terangkum dalam kalimat sarat airmata, senyum, dan tawa


Sabtu, 25 Oktober 2014

"Nge-blog" Lagi?

Iya. Jadi ini ceritanya mengulang kembali dari awal. Blog yang sebelumnya udah menghilang entah dimana rimbanya. Mungkin karena kelamaan ngga dibuka kali ya *Terakhir buka sekitar dua tahun yang lalu.
Now I'm ready to write again about my story of my life. Jadi inget kata-kata super dari Pramoedya Ananta Toer,“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”